Choice Therapy Berbasis Falsafah Budaya Jawa Sebagai Alternatif Untuk Meningkatkan Survival Ability Korban Bencana Alam

Noviyanti Kartika Dewi
Tyas Martika Anggriana

Abstract


Bencana alam merupakan fenomena alam yang sulit untuk diprediksi serta membawa dampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Para korban yang selamat dari bencana alam berpotensi mengalami kecemasan, depresi dan trauma. Oleh sebab itu perlu dilakukan pertolongan pertama pada kondisi psikologis (Psychological First Aid) kepada mereka. Layanan konseling merupakan sebuah bantuan yang dapat diberikan. Layanan ini bertujuan untuk membantu korban bencana alam agar memiliki survival ability serta mampu memulai dan menata kembali kehidupannya. Adapun pendekatan koseling yang akan dibahas penulis disini adalah pendekatan choice therapy berbasis budaya Jawa.

Pada choice therapy, penentu pilihan atas semua yang dilakukan oleh seorang individu -termasuk tentang penderitaan yang dialami- adalah dirinya sendiri. Orang lain hanya memberikan informasi. Namun semua itu tidak bisa membuat seorang individu melakukan atau merasakan apa-apa jika bukan dirinya yang memilih dan melaksanakan. Alasan dipilihnya budaya Jawa sebagai basis choice therapy karena budaya Jawa memiliki keunikan dalam pemikiran dan tindakan serta mendominasi berbagai aspek kehidupan di Indonesia.

Falsafah budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam konseling dengan pendekatan choice therapy diantaranya adalah Nerima ing pandum; Semeleh; Sapa sing Kelangan Bakal Diparingi – Sapa sing Nyolong Bakal Kelangan; dan Urip Iku aja Digawe Sambat dan Dilakoni ae sak Mlakune. Falsafah tersebut diintegrasikan dengan  pendekatan choice therapy melalui sistem WDEP (Want, Doing, Evaluation, Plan). Pendekatan konseling choice therapy berbasis falsafah budaya Jawa tersebut diharapkan dapat meningkatkan survival ability korban bencana alam. Survival ability tersebut ditandai dengan kemampuan bertahan hidup, memiliki pikiran yang jernih, percaya diri serta disiplin dan perencanaan yang matang.

 

Natural disasters are phenomena that are difficult to predict and have an impact on all aspects of human life. Survivors of natural disasters have the potential to be through an anxiety disorders, depression and trauma. Therefore it is necessary to do Psychological First Aid to them. Counseling is a help that can be given. Counseling aims to help survivors of natural disasters to have a survival ability and be able to continue their lives. The counseling approach that will be discussed here is choice therapy based on Javanese culture.

In choice therapy, a person is the determinant of choice for everything done - including about the suffering experienced. Other people only provide information. That are cannot make someone do or feel anything if they do not choose and implement. The reason for choosing Javanese culture as a basis for choice therapy is because Javanese culture is unique in thought and action and dominates various aspects of life in Indonesia

The Javanese cultural philosophy that can be applied in choice therapy includes Nerima ing pandum (sincerely accept the provisions of God); Semeleh (sincerity with all problems or burdens, allowing God to regulate and provide solutions); Sabar sareh mesti bakal pikoleh (a person must be patient, diligent and earnest so that he can reach his goal); dan Urip iku urup (life must be uplifting). The philosophy is integrated with the choice therapy approach through the WDEP system (Want, Doing, Evaluation, Plan). Therapy choice based on Javanese cultural philosophy is expected to increase the survival ability of survivors of natural disasters. Survival abilities are characterized by the ability to survive, have a clear mind, confidence and discipline and have a plan for the future.

Teks Lengkap:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24176/jkg.v4i2.2931

Article Metrics

Abstract views : 36| PDF views : 32

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.